Campaign

Bedah Rumah Yatim Banjir Garut

Tepatnya di akhir September 2016 yang lalu terjadi banjir bandang di Garut. Hiruk pikuk kebingunan, ketakutan, kesedihan dan euforia kedermawanan menghiasi kawasan DAS sungai Cimanuk, kota Garut.

Namun ada yang luput dari perhatian kita yaitu di daerah Cikajang, persisnya di kampung Pamegatan. Tak disangka jauh dari kota, ternyata di kampung ini pun terkena dampak banjir bandang lalu.

Ketika tiba di sana, mata saya langsung menuju sebuah bangunan rumah. Alan (12 tahun) dan Ega (5 tahun) bersama Ibu Ai Lasmanah (40 tahun) adalah penghuni rumah itu. Jangan bayangkan rumah seperti halnya rumah di kota, berdinding bata dan beralaskan keramik. Seluruh  rumah  tersebut beralaskan kayu usang dan berdindingkan bilik. Dingin menusuk saat malam dan bocor serta banjir saat hujan adalah hal biasa bagi Alan dan Ega tinggal di rumah  tersebut. Sejak dua tahun yang lalu Alan dan Ega  tinggal bersama seorang ibu. Ayah ya pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa ada rasa tanggung jawab.

Terkadang Alan dan Ega suka berucap “Kami rindu ayah. Ayah sekarang dimana..??” Ujar Alan dengan suara lirihnya.

Ibunya hanya seorang buruh tani dengan penghasilan yang tidak memadai, membuat rumah yang lebih nyaman adalah sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk mereka.

Bedah Rumah, inilah program dimana kami terlibat bersama, dengan dibantu pak RW dan warga setempat. Akhirnya kami bisa mewujudkan rumah impian Alan dan Ega. Sebuah program sederhana yang semata diniatkan membuat senyum terkembang di mereka.

 

 

Dan sore itu, ditemani turunnya hujan lebat, singkong goreng yg masih hangat dan secangkir teh yg menghangatkan tubuh ini dari rasa dinginnya cuaca di luar sana menjadi simbol nyata hangatnya rasa kekeluargaan warga desa khususnya keluarga Alan dan Ega.

MasyaAllah,,

Sungguh takjub melihat mereka yang jauh dari gemerlap modernisasi, hingga hingar bingar politik di luar sana menginspirasi kita tentang kepedulian dan keikhlasan dalam membantu tertangga tercinta mereka menikmati rumah yang lebih nyaman.

Namun dari semua itu,adalah kebahagiaan ketika ibu Ai lasmanah memasuki rumah barunya dan berkata lirih , “Alhamdulillah,Terima Kasih Ya Allah”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *