Blog

Satria Bilal Ramadhan, Santri Rumah Tahfiz Al-Azmi

Satria Bilal Ramadhan, anak pertama dari 3 bersaudara, usianya 12 tahun kelas 6 MI. Dia adalah salah satu santri di rumah tahfiz Al-Azmi di Rawakalong. Orang tuanya bukan penghafal Alquran, dan dia juga bukan dari lingkungan keluarga penghafal Quran. Namun, Bilal memiliki semangat yang tinggi untuk menghafal Alquran.

Bilal, begitu dia akrab disapa. Memang lahir di Rawakalong, namun waktu dia kelas 3 MI, dia sempat pindah ke Depok selama 2 tahun, kemudian kembali lagi ke Rawakalong saat dia kelas 5 MI. Sebelumnya dia hanya mengaji biasa di tingkat Pra-tahfiz. Setelah itu ia mengikuti tes untuk masuk rumah tahfiz dan Alhamdulilllah dia lulus test. Awal masuk di rumah tahfiz, mereka masih pulang-pergi ke rumah, belum ada asrama seperti sekarang.

Bilal memiliki cita-cita untuk menjadi seorang ulama, dia juga memiliki mimpi untuk mempunyai pesantren, dan dia juga ingin menyandang gelar hafiz. Itulah yang membuat dia semangat untuk menghafal Alquran dan menargetkan 2 tahun dapat menyelesaikan hafalannya. Bilal merahasiakan dia sudah menghafal berapa juz, ketika ditanya sudah hafal berapa juz dia selalu menjawab. “Doain aja ya, Kak. Hehe . . .” atau, “mohon doanya aja, ya Kak, semoga saya dilancarin!”

Bilal menghafal Alquran ketika pulang sekolah, setelah beristirahat bebrapa saat kemudian dia mandi dan mulai menghafal Alquran. Metode yang Bilal gunakan untuk menghafal adalah menghafal 1 ayat, kemudian jika sudah hafal dia akan lanjut ke ayat berikutnya, kemudian jika ayat berikutnya sudah hafal bilal akan mengulang lagi dari ayat 1, begitu seterusnya.

Bilal memang semangat dalam menghafal Quran, tapi bukan berarti dia tidak mendapat kendala saat menghafal Alquran. Setiap manusia pasti menemui masa januh apalagi anak seumur Bilal yang masih terbilang anak-anak. Terkadang rasa malas juga menghamipiri Bilal. Kalau rasa malasnya lagi datang, Bilal jadi tidak lancar menghafal dan setoran ke ustadnya, bahkan sering kali Bilal menangis karna kesal hafalannya tidak lancar-lancar. Namun
Bilal tetap bersabar dan terus berusaha untuk menghafal sampai lancar.
Selain itu, Bilal juga memiliki metode murojaah untuk menjaga hafalannya. Ia menuturkan bahwa metode yang dilakukan adalah dengan mengulang 10 lembar setiap hari. Tapi Bilal tidak bergantung pada peraturan di rumah tahfiz, kalau ada waktu luang terkadang Bilal juga gunakan untuk me-murojaah hafalan Qurannya.

Alquran merupakan karunia bagi orang yang memepelajarinya. Alquran adalah petunjuk bagi kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dan seperti yang Bilal lakukan, Allah selalu punya cara terindah untuk mendekatkan kita dengan Alquran, sepanjang kita mau memberikan waktu, perhatian, dan usaha kita untuk Alquran. Semoga Bilal mampu memotivasi kita untuk juga ikut mempelajari isi Alquran, dan mendapatkan pelajaran tentang kehidupan yang benar dari padanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *