Blog

Saya dan Segala Kebodohannya

Oleh: sunaryo adhiatmoko

Saya seorang ayah dari dua putri dan satu putra. Setiap tahun diberi kesempatan Allah, Tuhan yang Maha Agung, untuk menyekolahkan 40 anak usia dini secara bebas biaya per tahun. Anak-anak itu dari latar belakang beragam. Orang tua mereka bekerja serabutan, kuli, ojeg, preman juga pembantu rumah tangga.

Saat masuk di awal tahun ajaran baru, sikap dan karakter anak-anak polos itu, berantakan. Mereka kurang sentuhan tentang akhlak dan kasih sayang, karena rumitnya kehidupan para orang tuanya.

Para orang tua dari kelas menengah, kerap datang ke rumah mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah di PAUD Al-Azmi. Dengan hati menjerit, saya dan istri menolaknya. Bahwa mereka masih punya banyak pilihan untuk sekolah. Sebaliknya, anak-anak yang kami urus sungguh tak punya pilihan.

Anak-anak Paud Al-Azmi melakukan wisuda

Pada usia golden age, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga berantakan, perlu diberi kesempatan untuk tumbuh hidup normal dan baik. Tatkala usai wisuda, para orang tua terinspirasi dari karakter anaknya yang tumbuh baik, kami semua melepasnya dengan hati tenang. Bahwa, kita telah menanam kebajikan pada jiwa anak-anak itu, untuk bertarung pada masa-masa mendatang.

Mulanya, saya dan istri merasa cukup pada level ini. Tapi, warga kampung memaksa agar ada sekolah setingkat SD untuk anak-anak mereka. Kami sesungguhnya tidak tumbuh di pesantren, juga tak punya latar belakang pendidik. Kami hanya kumpulan jiwa yang gelisah, melihat agama dan pengetahuan berkualitas ada di menara gading. Saya pribadi hidup dalam ketimpangan itu.

Anak-anak MI Desa Rawakalong

Dengan segala kebodohan kami, sekarang sekolah Madrasah Ibtidaiyah Rawakalong sudah genap hingga kelas VI. Dengan jumlah murid 190 anak. Tiap tahun, jantung saya berderap kencang karena anak-anak perlu ruang kelas. Doa saya merintih-rintih.

“Jika engkau tega Tuhan, tak apa anak-anak kami belajar di tenda. Tapi, dengan Rohman Rahim-Mu, kami yakin Engkau tak akan melakukannya”. Maka jadilah lokal-lokal kelas itu, meski dicicil saat kenaikan kelas sudah terjadi.

Enam tahun berjalan, para guru yang sama-sama tak punya latar pendidik, begitu tulus mendidik tanpa ruang kantor. Mereka para ibu rumah tangga yang kami paksa jadi guru. Dengan doa-doa mereka, sekarang sudah punya ruang kantor. Bahkan mebelair nya cukup mewah membuat mereka betah mengajar.

Hari ini tanggal 1 Februari 2016, istri saya dan para guru pamer ke saya. Ditunjukkannya, piala berjejer memenuhi lemari khusus naruh piala. Lemari itu dibeli dari tabungan bisnis istri. Itu kenapa dia ngotot minta ijin punya bisnis, selain jadi kepala sekolah. Setidaknya sebagian operasional sekolah tak selalu mengadu ke saya.

Piala yang hampir memenuhi lemari itu, membuat saya mesem. Sementara guru-guru menunggu respon. Saya mesem sama Tuhan, becandanya membuat jantung berdebar juga membuat riang gembira. Tapi becanda yang paling saya takutkan, jika menggiring kami jadi sombong.

Di depan rumah kami, yang saya buat dari rangkaian kayu-kayu murah, setiap jam 03.30 pagi, 20 remaja putra putri menggemakan Al-Qur’an. Setelah mereka bersujud Tahajud. Merendahkan diri di hadapan Illahi, sebagai remaja yang memahami akan bertarung dalam realita masa depan lebih rumit.

Nia, remaja putri kelas 3 SMP sudah menghafal 18 Juz, selalu datang lebih awal sembari jalan kaki. Di gang-gang kampung Pondokmiri, Rawakalong, dia akan bertemu dengan teman-teman nya, melangkahkan kaki sebelum subuh untuk jadi santri tahfidz Al-Azmi.

Kegiatan santri Rumah Tahfiz Al-Azmi yang sedang muroja’ah

Remaja putra tahun ini mulai di asrama. Meski mereka asli Rawakalong, peraturan asrama cukup ketat layaknya pesantren. Jika PAUD dan MI benteng dan madrasah mendidik karakter kanak-kanak, Rumah Tahfidz ruang didik bagi kaum remajanya. Mereka tak hanya jadi penghafal Al-Qur’an, tapi harus ditempa karakter dan leadership nya.

Satu yang tiap hari rame di depan rumah kami, adalah TPQ. Santri yang ngaji TPQ sampai 250 anak. Mas Bowo yang berbagi rumah untuk jadi TPQ, sampai harus bikin 3 kali jadwal belajar baca Qur’an. Pagi, siang, dan sore.

Tidak terasa, aktivitas membangun lingkungan di tempat tinggal saya, Pondokmiri, Rawakalong, Gunungsindur, Bogor, sudah masuk tahun ke-11. Sejak usia putri pertama saya 2 tahun. Sekarang dia sudah jadi santriah Kyai Hasan Abdullah Sahal di Al-Muqodasah Ponorogo. Dia yang memilih sendiri pondok itu, setelah saya ajak silaturahim ke berbagai pesantren di Jawa.
Saya belajar mendidik anak, dengan menciptakan lingkungan yang aman buat mereka. PAUD, MI, Tahfidz, dan pemberdayaan adalah bagian dari membangun lingkungan terpadu. Anak-anak tetangga harus aman di lingkungannya sendiri.

Kita kerap ingin hidup untuk diri sendiri. Sementara anak-anak diperlakukan bak mesin kendaraan, yang dipasrahkan ke bengkel untuk di service. Itu kenapa banyak berdiri bisnis sekolah. Sebagian orang tua malas mendidik karakter anaknya. Dengan kecukupan uang, ia kirim anaknya ke sekolah dan pondok-pondok mahal. Meski tak sedikit yang ukurannya lebih pada gengsi. Saat kembali ke rumah, mereka dirusak oleh gaya hidup orang tuanya sendiri yang miskin dalam keteladanan.

Guru-guru saya memberi nasehat, jika ingin mendidik anak; berilah ia asupan makanan yang halal, temukan guru-guru yang ikhlas, ketulusan dan kepercayaan para orang tua pada sekolah maupun pesantren.

Bulan ini, 9 Februari 2016 usia saya menginjak 39 tahun. Umur makin tua. Saya seorang ayah dan suami yang masih terus belajar. Tapi satu tujuan saya menikahi istri saya Ernita Susanti, adalah untuk membangun peradaban. Kami harus kuat dan tumbuh, di lingkungan generasi yang kurang berutung. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *